Pagi ini selalu kaki melangkah pergi. Mencari dia aku diajari ibu.
Lamat-lamat kulihat jalan penuh sesak. Surga bagi kami pemilik suara
rombeng tak bernada. Lenguhan klakson memekik di telinga — meminta aku
enyah dari jalurnya. Aku pergi dengan masgul, seperti ibu yang
meninggalkanku pada desember dua tahun lalu. Debu-debu menempel pada
wajah, ranah kecantikan yang selalu dirawat orang kebanyakan. Sepotong
lagu menjadi andalan menggerus waktu, menyambung umur. Aku tak tahu apa
yang salah dari nasibku. Koin-koin berpindah tangan, dari tuan berdasi,
dari nyonya bergincu merah.
Setiap hari aku lari-lari menapaki jalan yang kusebut alur hidup pemberian Tuhan. Langkah kakiku suratan takdir. Tawa yang selalu kuhidangkan pada tiap sarapan juga makan malam, bukan di meja makan tetapi di jalanan. Setelah pagi habis dimakan siang, siang dipanggang sampai berubah warna menjadi senja, kemudian sang senja luruh pada pangkal pahaku, beristirahat menunggu malam yang tak pernah ingkar.
Aku, tak tahu bapakku pergi kemana, setelah memberi ibu empat anak yang dijadikan amunisi mencari penghidupan. Aku tak peduli siapa dia, orang yang lebih kotor dari asap mobil berbahan bakar murahan. Aku tak pernah menyalahkan Tuhan yang sedari dulu kusimpan dalam bilik jantungku. Aku percaya Tuhan, ibu dan aku juga si biadab aki-aki tua yang menjadi bapak biologisku, ciptaan Tuhan. Kenapa aku harus bersedih ditinggal ibu. Aku punya Tuhan, kita semua punya Tuhan namun alur hidupku lebih getir dari kalian. Tak ada yang lebih menjanjikan dari hidup, selain umur yang bertambah kemudian. Saat kecil aku tak begitu peduli dengan mereka yang hanya ingin membuat anak saja, mungkin nikmat berhubungan intim siang malam. Persetan!
Aku tumbuh dewasa, dengan akar pikiran jauh dari sempurna. Emosiku miliki belati — siap menghunus siapa saja yang menghalangi. Sekarang aku ingin menulis surat pada ibu juga bapak. Menyisipkan pertemuan dari doa paling getir. Aku tulis surat yang buta alamat. Dikirim entah kemana, mungkin ke neraka; tempat mereka bermukim meninggalkan aku. Kusembunyikan suratku dikantung mataku–biarkan jadi kotak surat paling menyedihkan. Dua musim setiap tahun, menemaniku bermetamorfosis. Ulat buruk rupa jangan harap menjadi kupu-kupu sempurna. Apa kalian tahu, setiap kedip mataku, setiap dengus nafasku aku pakai mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan. Tapi, langkahku tertahan oleh pendidikan. aku bukan perempuan jalang berumahkan jalanan, meski banyak supir-supir sinting mencolek tubuhku yang tidak dibalut kain sutera, hanya kain perca disulap menjadi penutup aurat. Mungkin dulu ibu begini, dicolek lelaki biadab sampai berbadan dua. Oleh masalah aku ditempa, oleh waktu aku dihina. hidupku mandul, tak punya anak kebahagian.
namun sekarang tujuanku hanya satu, mencari rumah Tuhan, aku ingin segera dibawa pulang.
Setiap hari aku lari-lari menapaki jalan yang kusebut alur hidup pemberian Tuhan. Langkah kakiku suratan takdir. Tawa yang selalu kuhidangkan pada tiap sarapan juga makan malam, bukan di meja makan tetapi di jalanan. Setelah pagi habis dimakan siang, siang dipanggang sampai berubah warna menjadi senja, kemudian sang senja luruh pada pangkal pahaku, beristirahat menunggu malam yang tak pernah ingkar.
Aku, tak tahu bapakku pergi kemana, setelah memberi ibu empat anak yang dijadikan amunisi mencari penghidupan. Aku tak peduli siapa dia, orang yang lebih kotor dari asap mobil berbahan bakar murahan. Aku tak pernah menyalahkan Tuhan yang sedari dulu kusimpan dalam bilik jantungku. Aku percaya Tuhan, ibu dan aku juga si biadab aki-aki tua yang menjadi bapak biologisku, ciptaan Tuhan. Kenapa aku harus bersedih ditinggal ibu. Aku punya Tuhan, kita semua punya Tuhan namun alur hidupku lebih getir dari kalian. Tak ada yang lebih menjanjikan dari hidup, selain umur yang bertambah kemudian. Saat kecil aku tak begitu peduli dengan mereka yang hanya ingin membuat anak saja, mungkin nikmat berhubungan intim siang malam. Persetan!
Aku tumbuh dewasa, dengan akar pikiran jauh dari sempurna. Emosiku miliki belati — siap menghunus siapa saja yang menghalangi. Sekarang aku ingin menulis surat pada ibu juga bapak. Menyisipkan pertemuan dari doa paling getir. Aku tulis surat yang buta alamat. Dikirim entah kemana, mungkin ke neraka; tempat mereka bermukim meninggalkan aku. Kusembunyikan suratku dikantung mataku–biarkan jadi kotak surat paling menyedihkan. Dua musim setiap tahun, menemaniku bermetamorfosis. Ulat buruk rupa jangan harap menjadi kupu-kupu sempurna. Apa kalian tahu, setiap kedip mataku, setiap dengus nafasku aku pakai mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan. Tapi, langkahku tertahan oleh pendidikan. aku bukan perempuan jalang berumahkan jalanan, meski banyak supir-supir sinting mencolek tubuhku yang tidak dibalut kain sutera, hanya kain perca disulap menjadi penutup aurat. Mungkin dulu ibu begini, dicolek lelaki biadab sampai berbadan dua. Oleh masalah aku ditempa, oleh waktu aku dihina. hidupku mandul, tak punya anak kebahagian.
namun sekarang tujuanku hanya satu, mencari rumah Tuhan, aku ingin segera dibawa pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar